Postingan

Merindukan Karawang Kota Lumbung Padi

  “Merindukan Karawang Kota Lumbung Padi”, Opini Mereka Bicara, Radar Karawang, 25 April 2016 Merindukan Karawang Kota Lumbung Pad i oleh Iwan Ridwan             Isu kekeringan dan krisis pangan akibat pemanasan global dan cuaca ekstrem, mewarnai perjalanan beberapa kepala daerah di Jawa Barat yang dilantik 2 bulan lalu. Hampir semua daerah mengalami krisis pangan. Bukan hanya itu, kini situasi bencana alam tengah menguji para kepala daerah yang terpilih.             Isu itu ditambah dengan harga bahan pokok yang ikut meroket naik. Akibatnya, daya beli masyarakat anjlok seperti kereta api yang keluar dari relnya.  Hal ini juga terlihat dari Indeks Harga Konsumen di Jawa Barat yang mengalami inflasi (kemerosotan) sebesar  0, 59 persen pada Januari 2016. Dari kelompok inflasi yang ada, “kelompok bahan makanan” menduduki peringkat pertama, yang merosot ...

Menata Nama Ilmu Pengetahuan

  “Menata Nama Ilmu Pengetahuan”, Teroka Bahasa, Koran Sindo, 9 Juni 2016 Menata Nama Ilmu Pengetahuan oleh Iwan Ridwan Ditengah polemik identitas dalam kasus LGBT beberapa waktu lalu, persoalan identitas ilmu pengetahuan sebagai penanda bidang ilmu tak kalah serius. Sebab, ilmu pengetahuan begitu sakral dalam kehidupan. Pusat Bahasa seharusnya resah akan penyerapan istilah ilmu yang “berkelamin” ganda. Hal ini terlihat dalam istilah “linguistik” dan “ekonomi”. Sudah jadi rahasia umum, ilmu tentang bahasa disebut “linguisti(k)” (bukan linguistika), sedangkan ilmu mengenai asas-asas produksi (ekonomi) disebut “ekonomi” (bukan ekonomika). KBBI (2008) juga menyebutkan demikian. Kedua ilmu ini telah menjadi bagian dari bidang pelajaran di tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi. Namun, jika dikupas lebih dalam ternyata istilah “linguistik” dan “ekonomi”  masih kabur identitas. Istilah linguistik dan ekonomi yang berasal dari kata linguistics dan economics (bahasa I...

Menata Nama Ilmu Pengetahuan

  “Menata Nama Ilmu Pengetahuan”, Teroka Bahasa, Koran Sindo, 9 Juni 2016 Menata Nama Ilmu Pengetahuan oleh Iwan Ridwan Ditengah polemik identitas dalam kasus LGBT beberapa waktu lalu, persoalan identitas ilmu pengetahuan sebagai penanda bidang ilmu tak kalah serius. Sebab, ilmu pengetahuan begitu sakral dalam kehidupan. Pusat Bahasa seharusnya resah akan penyerapan istilah ilmu yang “berkelamin” ganda. Hal ini terlihat dalam istilah “linguistik” dan “ekonomi”. Sudah jadi rahasia umum, ilmu tentang bahasa disebut “linguisti(k)” (bukan linguistika), sedangkan ilmu mengenai asas-asas produksi (ekonomi) disebut “ekonomi” (bukan ekonomika). KBBI (2008) juga menyebutkan demikian. Kedua ilmu ini telah menjadi bagian dari bidang pelajaran di tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi. Namun, jika dikupas lebih dalam ternyata istilah “linguistik” dan “ekonomi”  masih kabur identitas. Istilah linguistik dan ekonomi yang berasal dari kata linguistics dan economics (bahasa I...

Bijak Bermain

  “Bijak Bermain”, Argumentasi Kompas Kampus, 29 Juli 2016 Bijak Bermain oleh Iwan Ridwan             Ditengah kekhawatiran wabah penyakit karena vaksin palsu, gim “Pokemon Go” seolah luput dari pengawasan kita. Perlahan tapi pasti, gim ini mulai mewabah di Indonesia. Penggunanya seolah kesurupan . Tiang jalan ditabrak. Tak sadar tersesat di mana. Rasa penasaran begitu kuat pada gim yang digemari masyarakat dunia ini. Gim berbasis Augmented Reality MMO (Massively Multiplayer Online) ini tampaknya berhasil menyihir kita.                    Gim ini menuntun penggunanya berjalan-jalan. Ensiklopedia digital dalam menu Pokedex dan akses lokasi nyata dalam Pokestops, misalnya, dapat kita ambil manfaat positifnya. Ini bisa saja menambah kepekaan dalam membaca peta informasi, koleksi perbendaharaan kata, hingga mempererat persaudaraan. Bah...

Seremonial Kemerdekaan yang Memerdekakan

  “Seremonial Kemerdekaan yang Memerdekakan”, Opini Pikiran Rakyat Kampus, 18 Agustus 2016 Seremonial Kemerdekaan yang Memerdekakan  oleh Iwan Ridwan Tak dimungkiri, Indonesia telah berusia 71 tahun di masa kemerdekaannya. Seluruh masyarakat se-Nusantara merayakan peristiwa bersejarah akan bebasnya negara ini dari segala tindak penjajahan. Mulai dari seremonial di lapangan terbuka hingga mengadakan perlombaan-perlombaan untuk mengingat perjuangan para pendiri bangsa. Namun, kemerdekaan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari tragedi intoleransi seperti di Tanjung Balai beberapa pekan lalu. Selain itu, masih saja terjadi fenomena saling sikut dari para pemangku kepentingan yang haus kekuasaan. Artinya, bangsa ini belum mampu menjamin kemerdekaan rakyat sepenuhnya. Lantas, apa yang bisa kita lakukan ditengah dilema perekonomian dan semangat kebangsaan saat ini?  Setelah kita merayakan kemerdekaan, bekal apa yang telah kita dapat da...

Refleksi Pengorbanan yang Tak Mengorbankan

  “Refleksi Pengorbanan yang Tak Mengorbankan”, Opini Pikiran Rakyat Kampus, 22 September 2016 Refleksi Pengorbanan yang Tak Mengorbankan oleh Iwan Ridwan             Beberapa pekan terakhir, Indonesia diguncang badai persoalan yang menyangkut keamanan generasi mudanya. Menariknya, anak di bawah umur menjadi korban yang diidam-idamkan. Menjadi barang produksi yang diperjualbelikan seperti kasus “prositusi” online di Kawasan Puncak, Bogor (Republika, 31/8). Anak menjadi komoditas bisnis orang-orang yang tak bertanggung jawab. Mereka bukannya menyelamatkan masa depan anak, justru menjerumuskannya ke dalam lubang hitam kehidupan.             Tentu ingatan kita masih segar ketika anak menjadi mangsa keganasan pedofil yang bertindak asusila. Belum lagi serangkaian kasus lainnya yang begitu mengancam masa depan anak. Padahal anak merupakan calon generasi emas yang ...

Cerdas Berbahasa

   “Cerdas Berbahasa”, Argumentasi Kompas Kampus, 28 Oktober 2016 Cerdas Berbahasa oleh Iwan Ridwan             Bulan oktober identik dengan pemuda, bahasa, dan tanah air. Ini tak terlepas dari gelora Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang sampai saat ini terwariskan. Berbicara pemuda dan tanah airnya tentu “bias” tanpa kehadiran bahasa Indonesia sebagai identitas nasionalnya. Namun, kita masih dirundung persoalan tentang penggunaan kosakata asing yang kian marak.             Isu ini menjadi bagian dari “kesetiaan berbahasa” ditengah derasnya globalisasi. Tak hanya bahasa Indonesia yang terhegemoni bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, tetapi bahasa daerah (Sunda, Jawa, Bugis, dsb.) pun terancam jikalau ditinggal penuturnya. Kita lebih populer dengan istilah mouse, flashdisk, powerpoint,browser, power bank, blogger, bar code daripada tetikus, diska keras, sa...