Postingan

Artikel Jurnal Adabiyyat (Iwan Ridwan, et al)

Potret Hidup Dunia Kepenulisan Artikel Populer yang Kujalani

Gambar

Puisi Detakpekanbaru

Merawat Masa Depan Sastra Anak Indonesia

“Merawat Masa Depan Sastra Anak Indonesia”, Majalah Sastra Tarebung, Februari 2015 Merawat Masa Depan Sastra Anak Indonesia oleh Iwan Ridwan Dimanakah para kritikus sastra anak Indonesia? Karya sastra anak telah banjir di pasaran. Penulis sastra anak pun datang silih berganti. Mulai dari kalangan anak-anak, hingga kaum dewasa. Kehadiran “Kecil-Kecil Punya Karya” (KKPK) telah menyedot animo masyarakat sastra Indonesia. Namun sayang, belum ada sosok yang konsisten mengungkap mutiara kehidupan dalam karya sastra anak Indonesia. Membaca sejarahnya, sastra anak telah melahirkan sejumlah karya yang berkualitas dan pengarang ulung seperti Ardiwinata, Aman Dt. Madjoindo, M. Djajadisastra, M. Soemaatmadja, Muhammad Moesa, M. Saleh, serta R. Satjadibrata yang dapat disejajarkan dengan sastrawan adiluhung  seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Pramoedya, ataupun Utuy Tatang Sontani. Selepas kepergian H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, dunia kritik sastra Indonesia masih nyala-r...

Metamorfosis Bentuk (Subsidi)

"Metamorfosis Bentuk (Subsidi)”, Teroka Bahasa, Koran Sindo, 2 Mei 2015 Metamorfosis Bentuk (Subsidi)* o leh Iwan Ridwan             Dalam rumpun Austronesia, bangsa Indonesia memiliki potensi menjadi negara yang masif terhadap bahasa nasional. Sebagai salah satu negara jajahan, Indonesia dapat melepaskan diri dari interferensi asing dalam pencetusan bahasa nasional. Alhasil, bahasa Indonesia dideklarasikan sebagai bahasa nasional sejak kelahirannya dalam “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928. Hingga kini, bahasa Indonesia telah mengalami berbagai perkembangan dan penyempurnaan. Hal itu tak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh para pakar bahasa untuk terus menjaga eksistensi bahasa Indonesia. Tak dapat dimungkiri, kelahiran bahasa Indonesia tak terlepas dari bahasa daerah yang beragam. Di samping itu, arus global juga menuntut bahasa Indonesia menyaring geliat kebahasaan, khususnya bahasa asing yang kekinian begit...

Acuh dan (Tak) Acuh

"Acuh dan (Tak) Acuh”,   Alinea, Riau Pos, 31 Mei 2015 Acuh dan (Tak) Acuh o leh Iwan Ridwan Masyarakat berpotensi “meng(acuh)kan” pemerintah karena kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dirasa tidak pro rakyat. Misalnya, kenaikan harga BBM yang periodik, palu hukum yang tak pasti, pembebasan penjarah rakyat (koruptor),  dll. Fenomena tersebut juga rentan dengan sikap “(tak) acuh” dari pemerintah agar bisa menarik simpati rakyat. Namun, mengapa sampai saat ini pemerintah terkesan “(acuh)” terhadap kondisi rakyat serta “tak (acuh)” terhadap investor-investor asing? Kutipan kalimat pada pada paragraf di atas dalam menggunakan kata “acuh” dan “tak acuh” dimaknai terbalik/salah dari arti sebenarnya. Contoh lain juga bisa dilihat dalam bait lagu “Kau Menolakku, acuhkan diriku” dalam Cinta Ini Membunuhku dari grup band D’Massive. Menolak tapi mengacuhkan. Sungguh satu kombinasi yang membingungkan. Kasus yang sama juga dimaknai keliru pada lagu karya grup musik Slank. P...

Belajar di Madrasah T(s)anawiah

   “Belajar di Madrasah T(s)anawiah”, Bidasan Bahasa, Media Indonesia,  7 Juni 2015 Belajar di Madrasah T(s)anawiah (MTs) o leh Iwan Ridwan Sebagai lembaga formal, MTs bisa diandalkan dalam mencetak lulusan peserta didik yang berkualitas, baik itu dalam hal ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Namun,              di era modern saat ini lembaga sekolah yang berbasis “agama” tersebut sering dikaitkan dengan paham-paham radikalisme bahkan tindak terorisme seperti “ISIS”. Padahal MTs berhasil mencetak tokoh-tokoh besar yang kini duduk di kursi pemerintahan. Oleh karena itu, jangan sampai ada prasangka negatif terhadap lembaga formal berbasis keagamaan seperti MTs, Madrasah Aliah, ataupun pesantren yang sejatinya berlandaskan kebaikan dan kebenaran. Berbicara Madrasah T(s)anawiah tentu berhubungan dengan aspek kebahasaan yang menjadi saksi dinamika sosial masyarakat. Ditinjau dari kamus KBBI (2008), k...